Orang beriman, Puasa, dan Taqwa

Ramadhan

Oleh Syafa Hamidan

“Wahai orang-orang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (Q.S Al Baqarah 183).

Sudah sering kita mendengar ayat ini dikutip ketika memasuki bulan Ramadhan. Tapi kalau kita perhatikan lagi, setidaknya ada tiga kata kunci yang terkandung di dalam ayat ini: orang beriman, puasa, dan taqwa.

Pertama, objek dari seruan Allah lewat ayat ini ialah dikhususkan untuk orang-orang beriman, bukan kepada orang-orang munafik apalagi orang non muslim yang belum memahami dan menerima rukun iman (percaya kepada Allah, Malaikat, kitabNya, Rasul, hari akhir, qadha dan qadar). Orang beriman akan berpuasa karena semata-mata mereka telah percaya adanya Allah pencipta manusia yang telah memerintahkan suatu kewajiban, yaitu puasa di bulan Ramadhan. Karakteristik orang beriman ialah tidak akan pernah mengeluh dan selalu siap melaksanakan terhadap perintah Rabbnya. Seorang yang beriman akan merespon terhadap perintah Allah dan rasulNya dengan sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat, Q.S. An Nuur 51). Jadi wajar kalau kadang-kadang kita mendengar orang non muslim terutama di Jepang ini yang heran mengapa orang tidak boleh makan minum, karena mereka memang belum beriman. Sebenarnya simple jawabannya, yaitu karena kita telah mendapat perintah langsung oleh atasan kita yaitu Allah SWT dan yakin akan balasannya di hari akhir. Adapun manfaat puasa yang berguna bagi kesehatan dan sebagainya, hanyalah bonus atau efek samping dari perintah ini. Yang jelas, puasa kita bukan bertujuan agar lebih sehat atau untuk diet, apalagi karena ikut tradisi turun menurun, tapi karena kita ingin taat menjalankan perintah Allah SWT.
Selain itu, puasa sebagai salah satu rangkaian ibadah merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan rezeki. Kita masih diberi kesehatan dan bisa makan saat berbuka, tapi bayangkan orang fakir miskin yang untuk hidup sehari-hari saja belum tentu ada makanan .
Kita pasti pernah mendengar kisah Rasulullah yang shalat malam yang panjang sehingga kakinya membengkak. Ketika beliau ditanya mengapa bersusah payah mendirikan shalat padahal Allah telah mengampuninya dan menjamin masuk surga, beliau mengatakan” Afala akuuna ‘abdan syakuura (Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur) ?”
Demikian pula orang beriman yang berpuasa, insya Allah segala rasa lapar dan haus akan terkalahkan oleh keinginannya untuk menjadi hamba yang bersyukur.

Kata kunci kedua ialah berpuasa (shiyam). Pesan yang disampaikan Allah lewat ayat di atas kepada orang beriman ialah perintah puasa yaitu menahan makan/minum dan hawa nafsu. Bukan hanya menahan makan dan minum, serta nafsu syahwat saja, tapi juga mewajibkan untuk mengekang nafsu amarah dan berdusta, sebagaimana tertulis dalam hadits di bawah:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tetap mengerjakannya, maka tidaklah Allah butuh atas dia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)” (HR. Bukhari).
Pentingya menjaga kejujuran di dalam puasa Ramadhan ini perlu kembali digarisbawahi, sebab menentukan diterima atau tidaknya puasa. Kejujuran merupakan juga muara sungai kebaikan, sebaliknya berbohong bisa menjadi akar kejahatan. Akan ada korelasi antara puasa yang benar (dengan tidak berdusta) dengan perbuatan baik.
Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada Al-Birru (kebaikan), sedangkan kebaikan itu mengantarkan ke dalam surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa bersikap jujur hingga ia dicatat di sisi Allah Ta’ala sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mengarahkan pada kejahatan, sedangkan kejahatan itu menjerumuskan ke dalam neraka. Sungguh sesorang senantiasa berbohong hingga dicatat sebagai pendusta” (HR. Bukhari).
Tentu kita ingat juga kisah ketika seorang pemuda yang suka bermaksiat datang kepada Rasulullah dan ingin masuk Islam. Rasulullah hanya mensyaratkan satu hal, yaitu jangan berbohong. Akhirnya pemuda tadi bisa meninggalkan segala maksiat yang biasa dia kerjakan, karena setiap kali mau berbuat maksiat dia was-was kalau ditanya dan tidak bisa berbohong.
Bahkan, seseorang akan dijamin masuk surga kalau bisa menjaga lidah dan kemaluannya. “Barangsiapa mampu menjaga apa yang terdapat di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Tirmidzi).
Barangkali bagus kalau slogan KPK di bulan Ramadhan ini ditambah menjadi :”Jujur itu Hebat, Puasa Tak Bermakna Tanpa Kejujuran” !

Kata kunci ketiga, ialah taqwa. Di dalam ayat di atas, ketaqwaan ini adalah output yang ingin dicapai pada orang-orang beriman setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan. Orang yang bertaqwa sudah dijanjikan surga (Q.S. Ali Imran (3):133). Jadi, Allah menginginkan orang-orang beriman dengan berpuasa agar bertaqwa sehingga kelak masuk ke dalam surgaNya. Begitu sayangnya Allah kepada orang-orang yang beriman sehingga dituntun untuk masuk ke dalam surga. Di dalam khutbah Jum’at pun seringkali Khatib mengingatkan tentang ayat “Ittaqullah haqqa tuqaatihi” (Bertakwalah dengan sebenar-benarnya taqwa), karena dengan ketaqwaanlah posisi kita dunia ini menjadi paling mulia di sisi Allah (Q.S. 49:13), disukai Allah (3:76), di akhirat pun nanti ditinggikan derajatnya (2:212), dan didekatkan kepada surga (26: 89-90).
Maka keberhasilan puasa kita pun mesti dilihat dari indikator ketaqwaan. Beberapa indikator ketaqwaan dapat kita lihat dalam ayat-ayat Al Qur’an antara lain: bersegera minta ampun ketika bersalah, berinfaq, menahan amarah, pemaaf, selalu berbuat kebaikan (Q.S. 3:133-135). Atau di dalam surat lain: mendirikan shalat, berzakat, menepati janji, bisa bersabar dalam kesempitan (2:177), membenarkan risalah nabi Muhammad (39:33), tidak ragu memenuhi panggilan jihad (9:44), dsb.

Mudah-mudahan puasa Ramadhan kali ini benar-benar menjadi sarana untuk peningkatan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Mudah, tinggal nanti mencocokkan dengan indikator-indikatornya di atas, adakah perubahan yang lebih baik dalam diri kita selepas bulan Ramadhan? Gambarimasyo…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *