Anak-Anak dan Dakwah

Artikel Tausyiah

Oleh: Qonitatillah, MSc.

Dalam sebuah kesempatan majelis taklim ibu-ibu yang saya bina, seorang ibu bertanya kepada saya apa anak-anak saya biasa tidur larut malam. Saya memahami pertanyaan ibu tersebut karena pada  saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam dan anak bungsu saya yang berusia dua tahun masih asyik bermain dengan saudara-saudaranya sedangkan saya sibuk berinteraksi dengan ibu-ibu peserta majelis taklim. Bisa jadi ibu tersebut prihatin dengan keadaan saya yang membawa keempat anak saya ikut ke mana saya pergi. Malam-malam lagi. Bisa juga itu pendapat kagum karena saya masih terus berdakwah hingga tengah malam dengan membawa semua anak-anak saya.

Tidak jarang ada yang menyentil kebiasaan saya membawa rombongan anak-anak ketika berdakwah. Ada yang   mendukung, ada juga yang berkomentar prihatin bahkan ada juga yang merasa terganggu sampai-sampai ada yang mengusulkan kalau taklim tidak boleh bawa anak-anak karena akan mengganggu suasana. Bagi sebagian orang, mungkin sangat merepotkan membawa anak-anak pergi ke majelis yang di dalamnya penuh dengan harapan khusyuk dan tenang. Ya, saya bisa memahami itu.

Pernah suatu ketika saya mengajak seorang kawan untuk ikut jaulah mengisi taklim ke asrama pekerja di daerah kami. Tempatnya tidak terlalu jauh, sekitar sepuluh menit dengan kendaraan. Jawaban kawan saya ini dia mau berdakwah dengan cara lain saja. Alasannya fisiknya mudah lelah, kasihan dengan anak-anak dan alasan lainnya. Di ujung kalimatnya dia menekankan bahwa sudah banyak kawan seusianya yang sudah dipanggil oleh Allah. Dia takut jika sering bepergian apalagi di waktu malam akan memperburuk kesehatannya.

Pernah juga ada yang bertanya apa tidak repot membawa anak-anak dan bepergian malam-malam mengunjungi saudara-saudara di ladang yang terpencil. Suami saya yang menjawab mendahului dengan senyum,” Saya juga manusia biasa seperti Bapak dan Ibu. Pulang kerja sudah Maghrib. Maunya berkumpul dengan anak istri, istirahat, makan-makan. Eh ini malah langsung tancap gas pergi ke ladang. Bawa rombongan pula. Semua kami lakukan karena ingin memberi manfaat kepada sesama. Memberi sebanyak-banyaknya. Kami ingin menabung sebanyak-banyaknya pahala untuk kehidupan yang abadi di kampung akhirat. Jika untuk kehidupan dunia saja kita mampu banting tulang untuk mewujudkannya, apalagi untuk kehidupan kita selama-lamanya.”

Saya mengaminkan jawaban imam saya tersebut.

Memang tidak mudah mengajak anak-anak ikut ke mana orang tuanya berdakwah. Perlu trik dan strategi agar mereka ikut menikmati aktivitas tersebut. Hampir setiap minggu kami pergi keluar kota untuk berdakwah. Yang terjauh adalah sebuah kota berjarak seratus tiga puluh kilometer dari tempat kami tinggal. Kami berangkat pukul enam sore dan kembali ke rumah sekitar pukul dua pagi. Dalam keadaan tersebut persiapan menjadi sangat menentukan. Mulai dari keadaan fisik kita, bekal plus kendaraan yang digunakan. Maklum, kami hanya memiliki sebuah mobil tua untuk menemani perjalanan. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dengan pertolongan Allah SWT. Trik dan strategi kami untuk mengajak anak-anak adalah sebagai berikut:

1. Komitmen dengan pasangan

Sejak awal, kami memang meniatkan pernikahan kami adalah sebagai penguat komitmen kami berjuang di jalan Allah. Jika dulunya ketika masih bujang sudah terbiasa berdakwah, maka setelah menikah harus lebih produktif lagi berdakwah. Termasuk di dalamnya adalah menyiapkan anak-anak sebagai generasi pengganti kami dalam dakwah dan itu dilaksanakan sedari kecil. Semakin awal semakin bagus. Jadi kami saling membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Jika kami pergi bersama-sama, saya mengisi taklim ibu-ibu dan suami mengisi taklim para bapak, maka bagi tugas diawali dari rumah. Saya menyiapkan bekal, suami menyiapkan anak-anak atau sebaliknya. Di tempat acara, anak-anak dibagi. Siapa ikut ayahnya dan siapa yang ikut saya. Jika saya yang mengisi taklim, suami akan menunggu di luar sambil menemani anak-anak. Sebaliknya jika suami yang pergi berdakwah, tidak jarang dia membawa beberapa anak untuk ikut serta terutama anak lelaki.

2. Mempersiapkan bersama-sama

Selain persiapan yang bentuknya fisik: kendaraan, bekal makan-minum, baju ganti anak-anak, termasuk juga bantal atau guling karena seringnya kami bepergian di malam hari, yang tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan mental anak-anak. Mereka harus dipahamkan bahwa profesi kedua orang tuanya adalah dai. Orang-orang memanggil ayahnya dengan sebutan Ustadz dan ibunya dengan sebutan Ummi atau Ustadzah. Kami tunjukkan betapa menyenangkannya menjadi dai: banyak kawan, sering bepergian, sering berkunjung dan dikunjungi. Kami juga menanamkan kecintaan kepada profesi ini, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan manfaat terbesar adalah apabila kita menjadi perantara seseorang mendapat hidayah Allah SWT.

3. Berdakwah = piknik

Anak-anak bagaimanapun tetaplah anak-anak. Sesuatu akan sangat berkesan apabila dilakukan dengan menyenangkan. Mereka sudah hafal kalau Kamis malam Jumat, Sabtu malam dan Ahad malam adalah masanya berjalan-jalan. Tidak jarang ada yang mogok tidak mau ikut atau lebih suka di rumah menonton film kartun. Maka kami menyiasatinya dengan menjadikan tur keluar malam hari menjadi seperti piknik keluarga. Ada bekal makanan dan minuman yang istimewa. Mereka pun boleh memilih pakaian sendiri yang khusus dipakai untuk bepergian. Mereka juga boleh menyiapkan bekal sendiri seperti buku atau alat permainan yang disukai. Tidak jarang juga kami singgah ke rumah makan setelah selesai mengisi taklim, terutama di tempat yang jauh. Seteguk minuman dingin atau semangkuk sup panas pengobat lelah.

4. Mendidik umat = mendidik anak

Dengan mengikutsertakan anak-anak dalam agenda dakwah kita, secara tidak langsung kita mendidik mereka pula. Dengan kehadiran mereka, otomatis mereka mendengar dan menyimak materi yang kita sampaikan. Anak-anak, terutama yang agak besar, memperhatikan bagaimana majelis berlangsung. Mereka mengamati prosesi majelis, peserta dan pesan yang disampaikan. Teknik ini sangat berkesan karena anak tidak merasa digurui tapi diposisikan seperti Mbak-mbak atau Mas-mas lainnya yang juga hadir dalam majelis tersebut. Tidak jarang mereka bertingkah sedikit dengan mengganggu adiknya atau berbuat ulah. Tujuannya tentu untuk mencari perhatian. Mereka juga ingin diperhatikan, tidak hanya orang tuanya yang diperhatikan. Ini bermakna bahwa mereka mulai mengerti bahwa menjadi dai adalah menjadi pusat perhatian dan mereka menginginkannya.

5. Pintar-pintar berstrategi

Menghadapi anak-anak memang harus banyak akal. Seringkali jika kami berdakwah di hari kerja, kendalanya adalah bagaimana dengan sekolah anak-anak. Taklim baru selesai tengah malam dan kami sampai rumah di awal pagi. Memang harus pintar-pintar berstrategi. Dalam keadaan seperti ini, kami akan tawarkan ke anak-anak, mau ikut kami atau dititipkan ke rumah kawan. Alhamdulillah, kami banyak memiliki kawan dan saudara seperjuangan yang bersama memikul amanah dakwah. Jadi siapapun yang bertugas untuk berdakwah, anak-anaknya boleh dititipkan kapan saja. Kadang-kadang momen bermain ke rumah kawan ini sangat dirindukan anak-anak. Namun tidak semuanya mau begitu, terutama yang masih kecil-kecil. Ada kalanya juga mereka bersikeras ikut karena menginginkan suasana perjalanan malam atau berjumpa dengan Mbak dan Mas yang sudah mereka kenal dengan akrab. Jika demikian keadaannya, maka kami minta mereka tidur selama perjalanan dan akan kami bangunkan jika sudah sampai. Namun kadang efeknya masih terasa hingga ke pagi mereka berangkat sekolah. Kami menyemangati mereka untuk tetap pergi dan memberi sedikit kelonggaran untuk tidur  siang lebih lama sepulang dari sekolah.

Jadi, anak-anak bukan penghalang kita untuk berdakwah.

 

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/24988/anak-anak-dan-dakwah/#ixzz2EYsU8bbG

Leave a Reply

Your email address will not be published.