Artikel, Ramadhan

Idul Fitri dan Menjaga Amalan Ramadan

ramadhan1441HSetelah berpuasa dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadan, Umat Islam akan memasuki bulan Syawal dan menyambut Idul Fitri. Idul Fitri merupakan salah satu dari dua hari raya umat Islam selain Idul Adha. Pada dua hari raya tersebut kita diperbolehkan bersuka cita dengan penuh rasa syukur dengan tidak melanggar batas syariat. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

 قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

 “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Seringkali umat Islam memaknai Idul Fitri dengan “Kembali suci” tetapi makna ini ternyata kurang tepat. Ibnu A’rabi mengatakan: “Id, dinamakan demikian karena setiap tahun terulang dengan kebahagiaan yang baru.” (Al-Lisan hal. 5). Sementara, Ibnu Taimiyyah berkata: “Id adalah sebutan untuk sesuatu yang selalu terulang berupa perkumpulan yang bersifat massal, baik tahunan, mingguan atau bulanan.” (Fathul Majid hal. 289 tahqiq Al-Furayyan). sedangkan “fitr” dimaknai makan pertama di hari itu. Hal ini dikarenakan Idul Fitri merupakan penanda selesainya kewajiban melaksanakan puasa Ramadan sehingga salah satu yang disunnahkan sebelum melaksanakan sholat ied adalah makan.

Tentunya setelah Idul Fitri, kita tetap berusaha untuk istiqomah melaksanakan ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadan, seperti puasa, membaca Al Quran, qiyamul lail, serta infaq. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk menjaga konistensi ibadah kita, antara lain:

  1. Membuat perencanaan ibadah

Pada bulan Ramadan, kita seringkali membuat target ibadah yang terukur dan dapat dievaluasi. Namun, setelah Ramadan, seringkali kita tidak membuat perencanaan target ibadah harian yang baik sehingga kita juga kesulitan untuk melakukan evaluasi terhadap ibadah kita di luar bulan Ramadan. Terkait menyusun perencanaan, Allah menekankan terkait perencanaan dalam Al Quran Surat Al Hasyr ayat 18

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

2. Melaksanakan puasa Syawal dan puasa sunnah

Salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan setelah Ramadan adalah puasa enam hari di buan Syawal. Selain itu, kita juga bisa melaksanakan puasa-puasa sunnah di luar bulan ramadan, seperti puasa Arafah, puasa Senin Kamis, puasa Ayyamul bidh atau puasa Nabi Daud, satu hari berpuasa dan satu hari berbuka. Terkait puasa Syawal keutamaanya disebutkan dalam hadits yang  Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim no. 204).

3. Menjaga dan meningkatkan kualitas ibadah wajib

Khususnya salat wajib dengan menjaga ketepatan waktu, mengusahakan untuk berjamaah dan menjaga kekhusyu’an. Hal ini dikarenakan salat merupakan amalan yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun dan merupakan pembeda antara keimanan dan kekufuran. Selain itu, salat merupakan sarana munajat kita kepada Allah SWT, sebagaimana hadits

 إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ

 “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila berdiri dalam shalatnya, maka ia sedang bermunajat dengan Rabbnya – atau Rabbnya berada antara dia dan kiblat. Maka, janganlah salah seorang di antara kalian meludah ke arah kiblat. Akan tetapi hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya atau di bawah kakinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Memperbanyak interaksi dengan Al Quran

Pada Ramadan, kita mempunyai target khatam Al Quran satu, dua bahkan tiga kali tetapi setelah Ramadan kita sering lalai dalam memperhatikan interaksi kita dengan Al Quran. Oleh karena itu, seyogyanya setelah Ramadan kita tetap menjaga interaksi kita dengan Al Quran dengan membaca, menghafal, memahami dan mentadabburi makna Al Quran. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ  . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَال« فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

“Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054)

  1. Memperbanyak zikir dan amalan sunnah

Ini bisa dilakukan dengan melakukan zikir yang disunnahkan baik zikir setelah sholat, di sela-sela aktivitas atau zikir pagi dan petang. Selain zikir kita juga bisa tetap menjaga amalan sunnah yang kita lakukan dengan intensif di bulan Ramadan di luar bulan Ramadan seperti Qiyamul lail, salat Syuruq, salat dhuha, dan amalan sunnah lainnya.

  1. Mempererat ibadah sosial dengan berbagi

Di tengah pandemi COVID-19  yang belum diketahui waktu selesainya, memperbanyak berinfaq dan bersedekah menjadi amalan yang juga perlu kita lakukan bagi yang diberikan kelebihan rezeki dalam rangka memperkuat rasa kemanusiaan dan menunujukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh solidaritas dan kepedulian. Tentunya, kita juga perlu memperhatikan keluarga dan orang-orang terdekat kita dengan memastikan mereka tidak kekurangan karena sebaik baik infaq dan sedekah adalah infaq kepada keluarga terdekat setelah itu kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Keutamaan berinfaq dijelaskan dalam surat Al Baqarah 261

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS Al Baqarah : 261)”

Semoga setelah Ramadan, kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT agar istiqomah dalam beribadah dan ditetapkan hati kita dalam ber-Islam. Wallahu’alam bis showab.

Penulis: Mahmud Abbas

About pks

No information is provided by the author.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>