Islam di Jepang, Ramadhan, Seri Kehidupan di Jepang, Tausyiah

Menikmati Ramadhan di Negeri Sakura 2

Dengan penuh kebahagiaan, saya dan keluarga menyambut bulan yang mulia, bulan penuh keberkahan, bulan dikabulkannya doa, bulan diampunkannya dosa, bulan dilipatgandakannya pahala, bulan kemenangan, bulan perubahan, bulan pendidikan, yaitu bulan Ramadhan 1435 H. Ramadhan kali ini ada Ramadhan kedua yang saya rasakan bersama keluarga saya di negeri Sakura, sejak saya pertama kali menjejakkan kaki di negeri Sakura pada bulan Oktober 2012, jauh dari sanak family yang telah puluhan tahun bersama kami merasakan Ramadhan di tanah air tercinta. Tinggal di kampus yang terletak di atas bukit yang dikelilingi sawah dan hutan liar yang masih ada kuma (beruang), memberikan kesan dan pengalaman tersendiri pada diri kami selama bulan Ramadhan. Tentu saja di negeri minoritas muslim ini, banyak sekali perbedaan yang dirasakan selama bulan Ramadhan.

Berbeda dengan Indonesia, di sini kami harus meminjam ruang meeting dengan alasan untuk keperluan meeting komunitas muslim di kampus, maka kami melakukan shalat isya berjamaah yang dilanjutkan dengan shalat tarawih dan witir sebanyak 11 rakaat, diselingi dengan pembacaan satu hadits ketika istirahat di antar shalat tarawih. Kami hanya punya waktu satu jam saja untuk menyelesaikan semuanya, yaitu mulai dari jam 9 malam, dan harus selesai mulai dari jam 10 malam. Tahun lalu, semua shalat dipimpin seorang Doktor asal mesir yang menjadi imam. Tahun ini, 2014, dengan kepindahan brother dari Mesir ke kota Kanazawa, kami mempunyai lima orang imam yang memimpin shalat secara bergantian, dan semuanya orang Indonesia, yang terdiri dari Profesor, mahasiswa Doktor, dan mahasiswa Master. Kami juga harus menjaga suara kami agar tidak terlalu keras, karena budaya di sini yang biasa dengan ketenangan tidak mentolerir suara keras yang mengganggu. Shalat zhuhur dan shalat asar berjama kami lakukan di gym, karena ini satu-satunya tempat yang resmi untuk melakukan aktifitas praying (beribadah). Shalat subuh berjamaah jam tiga pagi kami lakukan di refresh room salah satu gedung apartemen mahasiswa.

Anak pertama saya sudah mulai puasa penuh 30 hari sejak umur empat tahun ketika kami masih di Bandung. Dia berpuasa atas kemauannya sendiri, setelah kami menunjukkan film Upin Ipin 19 episode mengenai Ramadhan secara berulang-ulang. Ternyata film ini sangat mempengaruhi anak saya tersebut, terutama jargon “tak puase tak boleh raye”, “tak puase tak masuk surge”, “tak ade puase setengah hari”, dan masih banyak lagi, sehingga ketika hari pertama dia puasa, dia lemas dan kami suruh buka, dia tetap bersikeras tidak mau berbuka. Puasa tahun lalu, anak saya berumur 6 tahun dan sudah memasuki kelas 1 SD dekat dengan kampus kami ini yang terleatk di kota Nomi ini. Puasa kali ini terletak di musim panas, di mana waktu siang jauh lebih panjang dari pada waktu malamnya. Kami berpuasa mulai dari jam tiga kurang hingga jam tujuh lewat, atau lebih dari 16 jam. Baru kali ini di hari pertama puasa, anak saya tidak kuat sehingga puasanya batal. Hari kedua juga sempat minum di siang hari karena gurunya tidak tega melihat anak saya lemas. Hari berikutnya Alhamdulillah puasanya penuh. Tahun ini, anak pertama saya sudah terbiasa dan puasanya selalu penuh sampai sekarang. Anak kedua saya, laki-laki yang berumur 4 tahun dan sudah menonton episode Ramadhan film Upin Ipin berulang kali pun sudah mulai puasa penuh dari hari pertama sampai sekarang, walaupun ketika hari pertama merasa laparr dan diminta untuk berbuka, dia tetap tidak mau batal, alhamdulillah.

Menikmati berbuka puasa di pinggir sungai Tedori, Tsurugi.

Menikmati berbuka puasa di pinggir sungai Tedori, Tsurugi.

Kami kadang melakukan buka puasa di luar menikmati alam hijau di negeri sakura ini. Suatu hari kami berbuka puasa di sebuah taman yang tak jauh dari kampus kami. Menikmati rumput hijau yang luas, sambil tilawah, dan anak-anak bermain. Waktu berbuka pun tiba, dan kami sangat bahagia, tetapi ternyata cepat sekali gelap. Karena kami khawatir ada kuma, kami segera pulang saja. Di lain waktu, kami menikmati buka puasa di pinggir sungai Tedori di Tsurugi. Di sana banyak orang Jepang yang melakukan barbeque. Kami mengambil wudhu di sungai yang airnya sejuk, kemudian menunggu berbuka dengan berbagi cerita islami. Setelah berbuka, kami shalat berjamaah di pinggir sungai. Ketika itu hari mulai gelap, orang-orang Jepang mulai bermain kembang api di pinggir sungai. Beginilah cara kami menikmati bulan Ramadhan di negeri Sakura, semoga jumlah muslim bisa bertambah lebih banyak di negeri Sakura ini.

Photo by halfrain

About pks

No information is provided by the author.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>